Jenis Limbah B3 Berdasarkan Bentuknya Serta Cara Pengolahannya

Pengertian Limbah

Pengertian limbah B3 menurut WHO yaitu sesuatu yang tidak berguna, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Pengelompokan Limbah Berdasarkan Bentuk atau Wujudnya dapat dibagi menjadi tiga diantaranya yaitu: limbah cair, limbah padat, limbah gas.

Baca Juga : Pengolahan Limbah B3 – Bahan Beracun dan Berbahaya

Sedangkan Limbah B3 menurut PP No 101 Tahun 2014, Limbah B3 dapat didefinisikan sebagai zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan.

 

Pengelompokan Jenis Limbah B3 Berdasarkan Wujud & Bentuknya

Limbah B3 Padat

Kategori Limbah Padat

Limbah padat adalah sisa hasil kegiatan industri ataupun aktivitas domestik yang berbentuk padat.  Limbah padat dapat dikategorikan menjadi enam kategori.

  1. Sampah organik mudah busuk (garbage)
  2. Sampah anorganik dan organik tak membusuk (rubbish)
  3. Sampah abu (ashes)
  4. Sampah bangkai binatang (dead animal)
  5. Sampah sapuan (street sweeping)
  6. Sampah industri (industrial waste)

 

Penanganan Limbah Padat

Penanganan limbah padat umumnya  terdiri dari beberapa tahap, yaitu :

  1. Pengumpulan dan Pengangkutan. Pengumpulan dan Pengangkutan bertujuan untuk memudahkan pemidahan limbah dari tempat tertentu atau berbagai sumber timbulan limbah sehingga limbah tersebut sampai  ke tempat tujuan (TPS).
  2. Penyimpanan. Penyimpanan Bertujuan untuk menjaga limbah agar tidak terjadi perubahan yang tidak dikehendaki, misalnya mencegah pembusukan, perubahan warna, dan lain lain. Fasilitas yang digunakan juga harus memenuhi standar tertentu.
  3. Pra Pengolahan. Pra pengolahan biasanya diikuti dengan pemisahan (seperation) dan minimasi ukuran (size reduction). Tujuan dari pra pengolahan adalah meningkatkan efektivitas dari pengolahan limbah selanjutnya.
  4. Pengolahan

 

Pilihan Alternatif Limbah Padat

Pengolahan limbah padat dibagi menjadi 3 pilihan alternatif yaitu

Pengolahan secara Termal

Secara termal dapat mengurangi massa 70-80% dan volume 80-90%, proses termal bersifat relatif lebih handal (robust) dan lebih efisien dalam mengkonversi berbagai bahan bak serta memberi peluang untuk memproduksi bahan bakar seperti etanol, alkohol campuran, oksigenat, hidrokarbon termasuk bensin, solar dan gas sintetis. . Pengolahan secara termal untuk limbah padat biasanya proses insinerasi, pirolisis.

Salah satu Teknologi yang paling umum digunakan ialah Insinerator. Kelebihan dari proses insinerasi adalah volume sampah berkurang sangat banyak (bisa mencapai 90 %). Selain itu, proses insinerasi menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik atau untuk pemanas ruangan. Meski demikian, tidak semua jenis limbah padat dapat dibakar dalam insinerator. Jenis limbah padat yang cocok untuk insinerasi di antaranya adalah kertas, plastik, dan karet, sedangkan contoh jenis limbah padat yang kurang sesuai untuk insinerasi adalah kaca, sampah makanan, dan baterai.

 

Pengolahan dengan Proses Reduksi dan Penguraian (Digestion)

Hasil dari proses reduksi  Proses reduksi dan Penguraian adalah kompos.  Kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organik, seperti sayuran, daun dan ranting, serta kotoran hewan, melalui proses degradasi/penguraian oleh mikroorganisme tertentu.

Pembuatan kompos merupakan salah satu cara terbaik untuk mengurangi timbunan sampah organik. Cara ini sangat cocok diterapkan di Indonesia, karena cara pembuatannya relatif mudah dan tidak membutuhkan biaya yang besar. Selain itu, kompos dapat dijual sehingga dapat memberikan pemasukan tambahan.

 

Penumpukan

Penumpukan dapat berupa open dumping atau sanitary landfill. Sanitary landfill adalah penggunaan lahan uruk yang dilapisi tanah liat dan plastik dalam menimbun tanah, dan  hasil dari sanitary landfill ini adalah gas metana yang dapat dihasilkan sebagai bahan bakar alternatif. Sedangkan penimbunan terbuka adalah cara menimbun sampah organik agar terurai oleh mikroorganisme yang terdapat di tanah.

 

Daur ulang

Pada proses daur ulang limbah anorganik akan diproses kembali menjadi barang baru bernilai ekonomis tinggi. Misal botol plastik bekas kemasan air minum dapat digunakan untuk kerajinan tangan, dan lain-lain

 

Limbah B3 Cair

Kategori Limbah Cair

Limbah cair dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu

  1. Limbah Cair Domestik ialah hasil buangan dari rumah tangga misalnya air sabun, air detergen.
  2. Limbah Cair Industri adalah air buangan sisa pewarnaan kain, air dari industri pengolahan makanan, contoh nya limbah air tahu.
  3. Rembesan dan luapan, Limbah ini berasal dari bebebagai sumber dan kemudian memasuki saluran penbuangan melalui suatu pipa atau saluran yang telah pecah, rusak, dan bocor. Contohnya adalah air dari bangunan talang atap.
  4. Air hujan (Storm water)

 

Pengolahan limbah cair

Limbah cair tersebut tentunya wajib ditangani dengan suatu sistem pengolahan. Pengolahan limbah cair dapat dibedakan menjadi beberapa tahap, yaitu :

  1. Penyaringan (Screening) dan Pengolahan awal. Pada tahap ini pengolahan limbah cair ditangani dengan proses fisik. Tujuan dari proses ini adalah pemisahan partikel atau kotoran berukuran yang relatif besar dari limbah cair. Tujuan penyaringan adalah memudahkan proses pengolahan air limbah.
  2. Pengendapan. Setelah melewati tahap pengolahan awal, proses pengendapan dibutuhkan sehingga zat tersuspensi pada air limbah yang berpotensi untuk membentuk endapan yang dapat mengganggu proses selanjutnya dapat dicegah.
  3. Pengolahan Sekunder. Tahapan ini menggunakan pengolahan secara bioogis yang melibatkan suatu mikrooorganisme yang dapat berperan sebagai pengurai bahan organik dari air limbah tersebut. Umumnya pengolahan sekunder menggunakan activated sludge, treatment ponds, trickling filter.
  4. Pengolahan tersier. Zat berbahaya yang tidak dapat dimurnikan oleh proses sebelumnya tentunya dapat menjadi pencemar bagi lingkungan. Zat yang berbahaya yang dimaksud ialah nitrat, fosfat. Pada proses ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika misalnya penyerapan dengan karbon-aktif, dan lain-lain.
  5. Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair. Meknisme desinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik.

 

Lumpur (sludge)

Lumpur adalah residu dari pengolahan limbah cair yang berasal dari hasil pengendapan materi padatan (solids) di dalam unit-unit pengolahan. Dengan kata lain sludge merupakan zat tersuspensi yang dilakukan dari pemisahan limbah cair berbentuk cairan dengan materi yang berukuran besar (granular).

Lumpur yang dihasilkan dari sistem pengolahan air limbah dibedakan atas lumpur kimia-fisika dan lumpur biologi. Lumpur kimia-fisika berasal dari pemisahan  hasil perlakuaan proses fisika-kimia, sedangkan lumpur biologi berasal dari perlakuan biologi.

Selain adanya zat pencemar dan bau yang ditimbulkan yang dapat mencemari lingkungan, pengolahan lumpur bertujuan untuk mengurangi volume lumpur  dengan cara pemisahan fase berbentuk cair dari lumpur sebelum sampai ke tahap pembuangan. Hal ini bertujuan agar mempermudah proses pengangkutan  air dari dalam lumpur sebelum dibuang, agar mempermudah masalah pengangkutan.

Proses Pengolahan Lumpur dibagi menjadi beberapa bagian:

Limbah B3 Gas

Limbah gas adalah limbah yang mengandung zat pencemar  seperti partikel partikel bahan padatan atau cairan yang ukurannya sangat kecil. Sebagai contoh adlaah limbah gas dari pabrik seperti asap dan debu. Contoh limbah gas adalah : Gas Karbonmonoksida, Nitrogen Oksida, Karbondioksida, Metan, Klorin dan lain-lain.

Keberadaan gas ini tentunya cukup berbahaya sehingga dibutuhkan suatu penanganan tertentu. Penanganan limbah gas dapat dilakukan dengan cara mengontrol emisi gas buang dan menghilangkan materi partikulat dari udara pembuangan.

Cara mengontrol emisi gas buang misalnya dengan cara desulfurisasi, sebagai contoh Gas sulfur oksida dapat dihilangkan dengancara ini menggunakan filter basah. Selain filter basah, cara lain dalam mengontrol emisi gas buang dapat juga dilakukan dengan pengaturan suhu pembakaran atau dengan pemasangan alat pengubah katalitik sehingga proses pembakaran sempurna.

Selain mengontrol gas emisi buang, menghilangkan materi partikulat dari udara pembuangan juga bisa menjadi pilihan. Metode ini dapat dilakukan dengan pemasangan filter udara, pengendap siklon,filter basah, dan pengendap sistem gravitasi. Tujuan dari pemasangan alat ini ialah membersihkan udara secara cepat sehingga efluen berupa gas lebih bersih.

Universal Eco hadir melayani Pengelolaan Limbah B3 yang berasal dari berbagai jenis industri. Limbah B3 dapat menimbukan dampak negatif yang serius bagi lingkungan jika tidak ditangani dengan baik. Universal Eco menawarkan pengangkutan, pemanfaatan, dan pengolahan limbah B3 yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan agar pencemaran lingkungan dari bahan berbahaya dapat dihindari.

 

About Universal Eco

Universal Eco adalah perusahaan pengelola limbah yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan. Misi kami adalah membantu mewujudkan Indonesia bebas limbah dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penerapan ekonomi sirkular bagi bisnis dan industri. Dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan, Universal Eco dapat melayani berbagai jenis kebutuhan pengelolaan limbah domestik dan B3 (Bahan Beracun & Berbahaya) yang bersumber dari area komersil, industri, dan fasilitas layanan kesehatan.

Layanan kami adalah

  1. Extended Producer Responsibility
  2. B3 Packaging Cleaning & Plastic Recycling
  3. Hazardous Waste Management
  4. Medical & Pharmaceutical Waste Treatment
  5. Zero Waste Treatment
  6. Secure Data & Destruction
  7. Jasa Pengelolaan Oli Bekas & Oil Sludge

Ingin informasi terkait lingkungan dan limbah bisa kunjungi kami di website atau instagram kami. Bersama Universal Eco mari wujudkan Indonesia bebas limbah, siap mengelola limbahmu secara bertanggung jawab.

Share :