Perubahan iklim nyata, senyata dampaknya yang bisa kita rasakan saat ini. Senyata pula dengan fakta bahwa isu ini sudah menjadi concern bersama masyarakat dunia. Teruntuk semua manusia yang masih menapakkan kakinya di bumi, maka dia ikut bertanggung jawab.
Paling tidak kita perlu memahami dan acuh terhadap tanda-tanda yang diberikan bumi. Tak sedikit beberapa di antara kita yang kurang terlalu peduli dengan masalah perubahan iklim, sebab keberadaannya yang jauh dari keseharian kita.
Padahal, fakta menunjukkan bahwa tahun 2016 menjadi tahun terpanas secara global, dengan nilai anomali suhu tercatat sebesar 0,99 derajat Celcius dari periode pengamatan tahun 1980 hingga 2020. Hal tersebut merupakan bukti perubahan iklim benar terjadi.
Pun, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, suhu di lautan meningkat sekitar 0,2 derajat Celcius. Akibatnya, es di kutub mencair sehingga terjadi peningkatan ketinggian muka air laut. Ketinggian muka air laut ini yang juga menjadi salah satu penyebab tenggelamnya beberapa kawasan pesisir.

Berkaca pada rentetan bencana dampak perubahan iklim yang kian mencemaskan, perlu upaya mitigasi dan adaptasi. Produksi emisi karbon perlu ditekan sedemikian rupa, transisi energi bersih perlu digalakan dengan sebetul-betulnya, dan rehabilitasi kawasan hutan jangan sampai tertinggal.
Berbicara rehabilitasi hutan, Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki luas hutan mangrove terluas di dunia. Ada sekitar 3,5 juta hektare hutan mangrove yang tersebar dari Pulau Sumatra sampai Papua.
Menariknya, kawasan hutan mangrove merupakan ekosistem blue carbon yang efektif menyerap karbon. Keberadaannya jelas punya peran penting dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Apa Itu Blue Carbon? Bagaimana Hutan Mangrove Berperan?
Apa itu blue carbon? Karbon biru atau blue carbon adalah karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem laut dan pesisir. Adapun, ekosistem penghasil dan penyimpanan karbon biru adalah mangrove, rawa gambut, padang lamun, terumbu karang, hingga fitoplankton.
Hutan mangrove sendiri diperkirakan dapat menyimpan 20 Pg C (Satuan Pg C atau Pentagram Karbon) dan 70-80% tersimpan di dalam tanah sebagai bahan organik. Hasil penelitian pada hutan bakau di Indonesia diperkirakan menyimpan 0,82-1, 09 Pg C per hektare.
“Mangrove sendiri untuk penyimpanan karbon itu hampir 5 kali lipat atau bahkan lebih daripada hutan-hutan tropis lainnya, jadi dibandingkan hutan boreal, ataupun hutan tropis sekalipun, mangrove ini punya potensi penyimpanan karbon yang lebih besar sekitar 5 kalinya dari hutan lain,” Jelas Alma Cantika Aristia, Product Manager LindungiHutan.

Hutan bakau tidak hanya berfungsi sebagai penyerap karbon yang penting tetapi juga menyediakan berbagai jasa ekosistem seperti perlindungan pantai, penunjang perikanan, dan konservasi keanekaragaman hayati.
“Selain carbon stock-nya, jadi ekosistem ini menyerap dan menyimpan emisi karbon dioksida yang ada di udara, kemudian juga penjaga biodiversitas, dia juga mencegah abrasi dan juga blue carbon ini berpotensi banget untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” Sambung Alma.
LindungiHutan: Platform Penanaman Pohon Berdampak dan Berkelanjutan
Lantas, bagaimana kondisi hutan mangrove di Indonesia saat ini? Meskipun memiliki luasan hutan mangrove yang cukup luas, alih fungsi lahan dan perambahan hutan menjadi ancaman di depan mata. Untuk itu, upaya rehabilitasi dan konservasi hutan mangrove mesti dilakukan.
LindungiHutan hadir sebagai jembatan bagi publik atau siapapun yang ingin terlibat dan mewujudkan komitmen maupun kontribusinya terhadap hutan serta lingkungan. Harapannya platform yang kami sediakan bisa betul-betul membantu publik yang ingin berkontribusi, petani dan masyarakat di lapangan, dan juga bumi yang kita tinggali.

Hingga saat ini LindungiHutan menanam lebih dari 800 RIBU pohon, termasuk mangrove di dalamnya. Dalam prosesnya, ada 400 ton CO2Eq karbon terserap dari hasil penanaman pohon bersama 120 Mitra Petani di 50 lokasi tersebar di Indonesia, bersama 500+ brand dan perusahaan yang terlibat.
Komitmen kami adalah mewujudkan aksi konservasi dan rehabilitasi yang berdampak dan berkelanjutan. Aksi konservasi dan rehabilitasi yang tidak hanya berfokus pada menanam bibit sebanyak-banyaknya. Melainkan memastikan terjaminnya regenerasi hutan dalam jangka panjang yang berdampak positif bagi bumi maupun masyarakat.
Kini, saatnya Anda ambil bagian dalam upaya rehabilitasi dan konservasi hutan! Bersama LindungiHutan wujudkan kolaborasi dan aksi penanaman pohon yang berdampak dan berkelanjutan.





