Gambut Mengering, Ancaman Membara: Potret Krisis di Sungai Sintuk

Di tengah heningnya hutan dan aliran air yang tenang, Sungai Sintuk menyimpan kisah pilu tentang perubahan iklim, eksploitasi alam, dan krisis lingkungan yang nyata. Kawasan ini, yang dulunya dikenal sebagai paru-paru hijau yang subur dengan hamparan lahan gambut, kini berada dalam bayang-bayang ancaman kebakaran hebat dan kerusakan ekosistem. 

Lahan gambut yang mengering tidak hanya membawa risiko ekologis, tetapi juga memengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat di sekitarnya. Artikel ini membedah potret krisis yang melanda Sungai Sintuk dan mengapa dunia perlu segera bertindak.

 

Apa Itu Lahan Gambut dan Mengapa Penting?

Lahan gambut adalah ekosistem basah yang terbentuk dari tumpukan materi organik, seperti daun dan batang pohon yang membusuk secara perlahan di lingkungan lembap. Di Indonesia, lahan gambut mencakup sekitar 14,9 juta hektare dan menyimpan sekitar 57 miliar ton karbon.

Keunikan gambut terletak pada kemampuannya menyimpan air dan menyerap karbon dalam jumlah besar. Ketika gambut dibiarkan basah, ia menjadi penyerap emisi karbon yang kuat. Namun ketika dikeringkan, justru menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang sangat besar, bahkan melebihi emisi dari bahan bakar fosil.

 

Krisis Gambut di Sungai Sintuk

Sungai Sintuk, yang membentang di wilayah Sumatera bagian timur, merupakan salah satu kawasan gambut yang kini berada dalam kondisi kritis. Sejak satu dekade terakhir, pembukaan lahan untuk perkebunan, pembangunan kanal, serta pembakaran hutan ilegal telah mempercepat degradasi ekosistem gambut di daerah ini.

Dampaknya sangat terasa:

  • Tingkat air tanah menurun drastis
  • Kebakaran hutan kian sering terjadi, terutama di musim kemarau
  • Asap pekat mengganggu kesehatan warga dan menghambat aktivitas ekonomi
  • Hilangnya keanekaragaman hayati lokal

Kenapa Gambut Bisa Terbakar?

Lahan gambut yang mengering bersifat sangat mudah terbakar. Ketika air tanah turun dan material organik di dalam tanah mengering, hanya dibutuhkan satu percikan api untuk memicu kebakaran hebat. Yang lebih mengkhawatirkan, api bisa menyala di bawah permukaan tanah selama berbulan-bulan, sehingga sulit dipadamkan.

Kebakaran gambut juga menghasilkan asap beracun yang mengandung karbon monoksida, metana, dan partikel halus yang berbahaya bagi saluran pernapasan. Di Sungai Sintuk, warga kerap mengalami ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), terutama anak-anak dan lansia.

Baca Juga: Perubahan Iklim, Peran Besar Hutan Mangrove sebagai Ekosistem Blue Carbon

Dampak Sosial dan Ekonomi

Krisis gambut di Sungai Sintuk tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengguncang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat:

  • Petani Kehilangan Lahan Produktif: Tanah gambut yang rusak tidak lagi subur untuk ditanami.
  • Warga Terpaksa Mengungsi: Saat kebakaran meluas, banyak keluarga harus dievakuasi.
  • Menurunnya Hasil Perikanan: Perubahan kualitas air mempengaruhi habitat ikan di sungai.
  • Kegiatan Pendidikan Terganggu: Asap tebal memaksa sekolah-sekolah tutup.

 

Upaya Penyelamatan dan Rehabilitasi

Meski situasinya genting, harapan belum padam. Berbagai pihak mulai mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan Sungai Sintuk dari kehancuran:

  1. Rewetting (Pembasahan Kembali): Pembangunan sekat kanal untuk menjaga permukaan air tanah tetap tinggi.
  2. Reforestasi: Penanaman kembali pohon-pohon endemik gambut seperti jelutung dan ramin.
  3. Pendidikan Lingkungan: Komunitas lokal dilibatkan dalam pelatihan pengelolaan lahan gambut berkelanjutan.
  4. Sistem Peringatan Dini: Pemasangan sensor kelembapan untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.
  5. Restorasi Kolaboratif: Kolaborasi antara pemerintah, LSM, dan masyarakat adat dalam pengelolaan lanskap secara terpadu.

 

Studi Kasus: Perempuan Penjaga Gambut

Salah satu kisah inspiratif datang dari kelompok perempuan di desa pinggiran Sungai Sintuk yang membentuk komunitas “Srikandi Gambut”. Mereka aktif dalam konservasi, memantau kondisi air tanah, dan menanam bibit tanaman hutan. Berkat kerja keras mereka, beberapa titik lahan berhasil dipulihkan dan menjadi pusat edukasi bagi masyarakat sekitar.

 

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Krisis di Sungai Sintuk adalah panggilan untuk semua pihak:

  • Masyarakat Umum: Kurangi penggunaan produk dari perusahaan yang merusak gambut. Dukung produk ramah lingkungan.
  • Pemerintah: Perkuat kebijakan perlindungan lahan gambut dan tegakkan hukum terhadap pelaku pembakaran ilegal.
  • Perusahaan: Terapkan prinsip keberlanjutan dan transparansi dalam pengelolaan rantai pasok.
  • Media dan Pendidikan: Angkat isu gambut sebagai bagian dari kurikulum dan berita arus utama.

 

Sungai Sintuk adalah cermin dari krisis lingkungan yang tak boleh diabaikan. Lahan gambut yang dulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi ancaman mematikan ketika dikeringkan dan dieksploitasi tanpa kendali. Namun dengan kerja sama, kesadaran kolektif, dan aksi nyata, kita masih bisa membalikkan keadaan.

Universal Eco mengajak semua pihak untuk memperjuangkan perlindungan lahan gambut demi masa depan yang lebih hijau, aman, dan berkelanjutan.

 

Universal Eco Hadir Menjawab Tantangan dalam Mengelola Limbah B3

Universal Eco adalah perusahaan pengelola limbah yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan. Misi kami adalah membantu mewujudkan Indonesia bebas limbah dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penerapan ekonomi sirkular bagi bisnis dan industri.

Dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan, Universal Eco dapat melayani berbagai jenis kebutuhan pengelolaan limbah domestik dan B3 (Bahan Beracun & Berbahaya) yang bersumber dari area komersil, industri, dan fasilitas layanan kesehatan.

Layanan kami adalah

  1. Extended Producer Responsibility
  2. B3 Packaging Cleaning & Plastic Recycling
  3. Hazardous Waste Management
  4. Medical & Pharmaceutical Waste Treatment
  5. Zero Waste Treatment
  6. Secure Data & Destruction
  7. Jasa Pengelolaan Oli Bekas & Oil Sludge

Ingin informasi terkait lingkungan dan limbah bisa kunjungi kami di website atau instagram kami. Bersama Universal Eco mari wujudkan Indonesia bebas limbah, siap mengelola limbahmu secara bertanggung jawab.

 

Sumber Referensi:

  • Wetlands International Indonesia. (2022). Status dan Rehabilitasi Lahan Gambut di Kalimantan
  • Forest Watch Indonesia (FWI). (2021). Kondisi Terkini Ekosistem Gambut dan Kebakaran Hutan.
  • Mongabay Indonesia. (2023). Sungai Sintuk dan Ancaman Kebakaran Gambut Akibat Kekeringan.
Share :