Kota Paling Rawan Kekeringan di Indonesia

Di tengah perubahan iklim yang semakin terasa, kekeringan bukan lagi sekadar musim kemarau biasa. Ia menjadi ancaman serius yang mengancam ketersediaan air bersih, pertanian, kesehatan masyarakat, hingga ketahanan pangan. 

Indonesia, sebagai negara tropis dengan pola hujan yang beragam, memiliki wilayah-wilayah yang secara alami maupun akibat faktor manusia jauh lebih rentan mengalami kekeringan. 

Memahami kota dan daerah mana yang paling rawan adalah langkah penting untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong aksi bersama.

Mengapa Beberapa Wilayah Lebih Rentan?

Kekeringan di Indonesia dipengaruhi oleh kombinasi iklim, geografi, dan tekanan manusia. Wilayah yang dipengaruhi Monsun Australia, seperti Nusa Tenggara, cenderung mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan kering. 

Sementara di Pulau Jawa, kepadatan penduduk tinggi, ketergantungan pada pertanian, serta tekanan terhadap sumber air memperbesar risiko dampaknya. Perubahan iklim memperburuk situasi dengan membuat musim kemarau semakin tidak menentu dan intens.

Data Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2025 menunjukkan gambaran yang jelas. Sebanyak 375 kabupaten/kota atau sekitar 73 persen wilayah Indonesia berada dalam kelas risiko kekeringan tinggi. Di antara kota-kota, Kota Batam di Kepulauan Riau dan Kota Kupang di Nusa Tenggara Timur menempati posisi teratas dengan skor risiko tertinggi.

1. Pulau-pulau di Nusa Tenggara

Kota Kupang secara konsisten menjadi salah satu wilayah paling rentan. Faktor iklim monsun timur yang ekstrem membuat wilayah ini menerima sedikit hujan selama berbulan-bulan. Kondisi serupa dialami banyak kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Daerah seperti Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, Bima, dan Dompu sering mencatat hari tanpa hujan yang sangat panjang.

Bagi masyarakat di kawasan ini, kekeringan berarti kesulitan mendapatkan air bersih, gagal panen, dan meningkatnya risiko kebakaran lahan. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling terdampak. Kesadaran akan pola iklim lokal dan pengelolaan air yang lebih baik menjadi kebutuhan mendesak.

Baca Juga: Sungai di Morowali Tak Lagi Jernih, Ini yang Harus Kita Lakukan!

2. Pulau Jawa

Meskipun tidak selalu memiliki skor risiko tertinggi secara absolut, Pulau Jawa menghadapi kerentanan yang sangat kompleks. Kepadatan penduduk, intensitas pertanian, dan tekanan terhadap sumber air membuat dampak kekeringan terasa lebih berat. 

Wilayah di Daerah Istimera Yogyakarta (termasuk Kota Yogyakarta dan Gunungkidul), Jawa Tengah (seperti Solo, Blora, Grobogan, dan sekitarnya), Jawa Timur (terutama bagian utara dan selatan), serta beberapa daerah di Jawa Barat dan Banten sering masuk dalam kategori waspada hingga awas kekeringan meteorologis.

Di sini, kekeringan tidak hanya soal kurangnya hujan, tetapi juga soal kemampuan infrastruktur dan kapasitas masyarakat untuk beradaptasi. Ketika sumur mengering dan sungai surut, jutaan orang merasakan dampaknya secara langsung.

Baca Juga: Strategi Penanganan Limbah B3 Industri yang Terkontaminasi Abu Vulkanik Pasca Erupsi

3. Wilayah Lain yang Perlu Diwaspadai

Selain Pulau Nusa Tenggara dan Jawa, beberapa wilayah lain juga menunjukkan kerentanan tinggi. Bagian selatan Sulawesi, bagian selatan Kalimantan, serta beberapa daerah di Sumatera bagian selatan kerap mengalami defisit curah hujan yang signifikan. 

Kota Batam, meski berada di kawasan yang relatif basah secara umum, tercatat memiliki risiko tinggi berdasarkan penilaian komprehensif yang mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk ketersediaan air dan tekanan penduduk.

Pantauan BMKG secara rutin menunjukkan bahwa pada puncak musim kemarau, wilayah-wilayah di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan selatan, dan Sulawesi selatan sering menjadi zona prioritas untuk kewaspadaan.

Dampak yang Melampaui Kekeringan Fisik

Kekeringan bukan hanya soal tanah retak dan sungai kering. Dampaknya merambat ke berbagai aspek kehidupan. Sektor pertanian mengalami penurunan produksi, yang kemudian memengaruhi harga pangan. 

Masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli air bersih. Kesehatan masyarakat terancam karena kualitas air menurun dan risiko penyakit terkait air meningkat. Dalam jangka panjang, kekeringan dapat memicu migrasi dan konflik sumber daya.

Perubahan iklim diperkirakan akan membuat kondisi ini semakin parah di masa depan. Wilayah yang sudah kering berpotensi semakin kering, sementara pola hujan yang semakin ekstrem menambah ketidakpastian.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kesadaran adalah langkah pertama. Masyarakat di daerah rawan perlu memahami pola iklim lokal dan mulai menerapkan praktik hemat air sejak dini. 

Pemerintah daerah dan pusat memiliki peran penting dalam memperkuat sistem peringatan dini, membangun infrastruktur penyimpanan air, serta mendorong pertanian yang lebih tahan kekeringan.

Di tingkat individu, setiap orang dapat berkontribusi dengan menggunakan air secara bijak, mendukung penghijauan, dan menyebarkan informasi yang akurat. Perusahaan dan industri juga perlu bertanggung jawab dalam pengelolaan air dan mengurangi jejak air mereka.

Kekeringan adalah tantangan bersama. Dengan memahami wilayah mana yang paling rentan—seperti Kupang, Batam, serta banyak kota dan kabupaten di Jawa dan Nusa Tenggara—kita dapat mempersiapkan diri lebih baik. 

Informasi yang tepat menjadi fondasi bagi aksi nyata. Mari jadikan kesadaran ini sebagai awal dari ketahanan yang lebih kuat terhadap ancaman iklim di masa depan.

About Universal Eco

Universal Eco adalah perusahaan pengelola limbah yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan. Misi kami adalah membantu mewujudkan Indonesia bebas limbah dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penerapan ekonomi sirkular bagi bisnis dan industri. Dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan, Universal Eco dapat melayani berbagai jenis kebutuhan pengelolaan limbah domestik dan B3 (Bahan Beracun & Berbahaya) yang bersumber dari area komersil, industri, dan fasilitas layanan kesehatan.

Layanan kami adalah

  1. Extended Producer Responsibility
  2. B3 Packaging Cleaning & Plastic Recycling
  3. Hazardous Waste Management
  4. Medical & Pharmaceutical Waste Treatment
  5. Zero Waste Treatment
  6. Secure Data & Destruction
  7. Jasa Pengelolaan Oli Bekas & Oil Sludge

Ingin informasi terkait lingkungan dan limbah bisa kunjungi kami di website atau instagram kami. Bersama Universal Eco mari wujudkan Indonesia bebas limbah, siap mengelola limbahmu secara bertanggung jawab.

 

Referensi:

  1. GoodStats. (2025). Sebaran Risiko Bencana Kekeringan di Indonesia 2025, Batam dan Kupang Tertinggi. 
  2. BMKG. Berbagai laporan Monitoring Kekeringan di Indonesia dengan Metode SPI (pembaruan berkala).
  3. Detik.com / Kompas.com. Laporan BMKG terkait wilayah berpotensi kekeringan tinggi (2026).
  4. BNPB. Data dan pernyataan terkait wilayah kekeringan tertinggi.
Share :