Fire Assay dan Pengelolaan Limbah B3

Pengertian

Fire Assay adalah suatu metode kuantitatif untuk menentukan kadar logam mulia dalam produk metalurgis. Logam mulia tersebut terdiri dari:

  1. Emas
  2. Perak
  3. Golongan platina

Kadar logam mulia ini ditentukan melalui ekstraksi dengan cara peleburan dan menggunakan pereaksi kimia kering.

Baca Juga : Sandblasting dan Limbah B3 yang Dihasilkan

fire assay

Kelebihan Fire Assay

Fire assay memiliki kelebihan sebagai berikut:

  1. Metode pengujian kadar emas yang akurat dan murah
  2. Tingkat akurasi bisa mencapai 0,04%
  3. Ideal dilakukan pada benda dengan kadar emas antara 33-92%

Proses Fire Assay

Umumnya metode yang digunakan memiliki 3 tahap utama, yaitu pencampuran fluks, reaksi fusi dan kupelasi. Sedangkan secara detail, metode fire assay memiliki 6 proses yang terdiri dari:

  1. Persiapan Sampel. Sampel konsentrat yang berbentuk kristal harus memiliki ukuran 200 mesh
  2. Penambahan Flux (Fluxing). Flux merupakan suatu pereaksi yang ditambahkan pada zat yang sulit melebur untuk menghasilkan campuran yang dapat melebur dengan mudah atau disebut sebagai slag (ampas bijih). Zat pereaksi tersebut diantaranya Natrium karbonat (Na2CO3), Timbal(II) oksida (PbO), Silikon dioksida (SiO2), Boraks (Na2B4O7) dan Kalium flourida (CaF2)
  3. Peleburan (Fusion). Campuran dilebur dengan suhu 1.050 derajat Celcius di dalam tungku pembakaran dengan waktu sekitar 45-60 menit. Cairan hasil peleburan dituang ke dalam cetakan berbentuk kerucut lead botton di mana setelah dingin slag akan terpisah dari cetakan.
  4. Pemisahan Timbal (Cupelation). Pemisahan emas dan perat dari cetakan dilakukan dengan cara peleburan/pemanasan di mana cetakan lead button akan teroksidasi menjadi timbal (Pb) dengan persentase 98,5% terserap dan 1,5% menguap.
  5. Pemipihan. Biji logam mulia hasil proses sebelumnya dipipihkan sampai berukuran sekitar 0,2mm dengan tujuan untuk mendapatkan emas yang sempurna.
  6. Pelarutan (Digestion). Pemisahan emas dan perak dilakukan dengan penambahan asam nitrat agar perak menjadi larut. Setelah itu ditambahkan asam klorida (HCl) 65% untuk melarutkan mineral yang masih terkandung di dalam emas.

Metode Fire Assay Menghasilkan Limbah B3

Penggunaan metode fire assay umumnya terjadi secara kimiawi di mana menggunakan bahan kimia di dalamnya, sehingga limbah yang dihasilkan dari proses ini termasuk kategori limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Limbah B3 yang dihasilkan dari metode fire assay adalah limbah fire assay seperti ceramicflux, dan cuppel dengan kode limbah B331-1.

Baca Juga : Proses Pickling dan Limbah B3 yang Dihasilkan

Pengelolaan Limbah B3 dari Fire Assay

Pengelolaan limbah B3 dari metode fire assay perlu dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan aspek lingkungan. Dengan pengelolaan limbah yang baik, diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari limbah B3 terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Universal Eco melayani jasa pengelolaan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang berasal dari berbagai jenis industri. Mulai dari pengangkutan, pengumpulan dan pengolahan dengan fasilitas serta teknologi yang telah memenuhi standar, limbah ini akan diolah sesuai peraturan yang berlaku. Universal Eco melayani 200+ kode limbah yang dapat dikelola secara bertanggung jawab.

Ingin informasi terkait lingkungan dan limbah bisa kunjungi kami di website atau instagram kami. Bersama Universal Eco mari wujudkan Indonesia bebas limbah, siap mengelola limbahmu secara bertanggung jawab

Bagikan :